Selasa, 15 Maret 2011

DAMPAK PENGGUNAAN PONSEL TERHADAP PERUBAHAN POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT JAWA BARAT

BAB I
PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang

Sejak pertengahan abad ke-20 sampai saat ini dunia dilanda perkembangan teknologi yang sangat deras, penemuan silih berganti menghiasi kehidupan masyarakat modern. Pendorong utama terjadinya perubahan sosial adalah perkembangan teknologi. Hal ini sesuai dengan tesis Ogburn (Bertrand, 1967) ”Inovasi teknologi penting sebagai penyebab terjadinya perubahan, sedangkan bidang sosial dan kebudayaan cenderung tertinggal dengan inovasi-inovasi tersebut”, dan inovasi teknologi menjadi pendorong terjadinya perubahan sosial. Dalam masyarakat proses ini dikenal sebagai proses modernisasi. Perkembangan teknologi abad ini telah menempatkan teknologi komunikasi sebagai primadona utamanya. Tidak ada teknologi yang begitu nyata berkembang dan berpengaruh dalam kehidupan selain teknologi komunikasi. Paisley (Rogers, 1986) menyatakan ”Perubahan teknologi telah menempatkan komunikasi di garis depan revolusi sosial”. Perkembangan teknologi komunikasi nampak dalam penemuan-penemuan elektronik. Ponsel contohnya, secara canggih dan cepat berkembang melebihi penemuan-penemuan teknologi lainnya. Selain itu, sarana-sarana telekomunikasi turut berkembang pesat seperti faximile, teleks, dll. Kemajuan tersebut mencapai puncaknya saat teknologi komunikasi elektronika menyatu dengan perkembangan komputer. Kenyataan ini melahirkan komunikasi interaktif antara komputer seperti internet, buletin komputer, buletin ponsel, videoteks, teleks, telekonfrensi, dll. Selain itu kemudahan-kemudahan lain seperti kartu kredit, kartu ATM, CD-Room menjadi trend masyarakat terutama di kota-kota.
Saat ini dan di masa-masa mendatang komunikasi dan informasi secara cepat, canggih dan nyaman dengan menggunakan ponsel mengunjungi khalayak sampai ke kamar tidur tanpa pembatas apa-apa. Bahkan batas antar negara pun tak mampu membendung arus informasi komunikasi. Masalahnya sampai di mana penggunaan ponsel memberi dampak sosial terhadap perubahan pola komunikasi. Penggunaan ponsel di tengah kehidupan masyarakat Jawa Barat membawa dampak yang cukup signifikan terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat yang tadinya lambat sekarang menjadi sangat pesat, di mana penggunaan pesawat telepon di rumah kini berubah dengan menggunakan ponsel yang dapat dilakukan di mana pun berada. Penggunaan surat menyurat yang mengalami proses panjang dan memakan waktu dapat digantikan oleh SMS yang tersedia melalui ponsel, dengan waktu singkat pesan yang kita kirim akan segera sampai dan memakan biaya yang murah disamping bisa mendapat respon/balasan seketika itu juga. Sehingga penggunaan ponsel saat ini merupakan salah satu kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat karena berbagai fasilitas yang tersedia di ponsel tersebut sesuai dengan merk yang dipilih/digunakan. Namun kehadiran ponsel di tengah masyarakat juga menimbulkan dampak positif dan negatif. Adapun dampak positifnya mempermudah komunikasi di mana pun dan kapanpun disamping itu fasilitas yang tersedia di ponsel seperti SMS, alat foto, alat perekam dan masih banyak lagi dapat mengurangi cost yang harus kita keluarkan dalam arti adanya ponsel dengan berbagai fasilitas, efisiensi biaya dapat ditekan, bahkan dengan ponsel, masyarakat dapat melakukan transaksi perbankkan melalui telepon banking yang disediakan tiap-tiap bank, dan masih banyak lagi nilai positif yang diperoleh melalui ponsel yang kita miliki, makin banyak fasilitas dan kemudahan yang kita peroleh.
Dampak negatif yang ditimbulkan ponsel antara lain berkurangnya masyarakat untuk beranjangsono, baik kepada orang tua maupun keluarga atau melunturnya budaya sowan/mudik. Padahal kehadiran fisik seseorang tidak bisa menggantikan betapa canggihnya alat komunikasi. Disamping itu banyak kejahatan yang dilakukan melalui SMS dengan dalih yang bermacam-macam sehingga banyak pemilik ponsel terkecoh oleh isi SMS yang tujuannya menipu. Disamping itu dampak yang sangat berpengaruh di lingkungan remaja adalah banyaknya gambar pornografi yang beredar melalui pengiriman foto-foto/MMS melalui ponsel, dan keadaan ini tidak dapat dibendung/dicegah akibat kemajuan teknologi yang begitu pesat. Meskipun demikian masyarakat sangat menggandrungi kehadiran ponsel dengan berbagai merk yang ada, bahkan mereka berlomba-lomba memiliki ponsel dengan berbagai merk, hal ini barangkali masyarakat terpicu oleh gurauan dari salah satu iklan televisi yang menggelitik masyarakat ”Hari gini nggak punya HP”.
Era informasi harus diterima dengan tangan terbuka sebagai kemajuan tanpa mengabaikan dampaknya. Dampak tersebut dapat berupa kesenjangan kelas sosial, pengangguran, peluberan arus informasi, penetrasi budaya, dan gejala psikososial masyarakat yang kompleks. Kehadiran komputer, televisi dan khususnya ponsel membuat orang lebih individualistis. Mereka dapat bekerja, menghibur diri, belajar dan mendapatkan informasi sendiri tanpa bantuan orang lain. Kondisi ini mengurangi intensitas hubungan manusia yang dapat membuat manusia merasa terasing. Hal ini sering kali mengakibatkan banyak anggota masyarakat menderita gejala stress (Jurnal Komunikasi No.1; 1998).
Untuk mengetahui ada tidaknya dampak kehadiran ponsel terhadap perubahan pola komunikasi masyarakat Jawa Barat, diperlukan suatu upaya dengan melakukan penelitian.

B.  Rumusan Masalah
-          Bagaimana pola komunikasi masyarakat dalam berkomunikasi sebelum ada ponsel
-          Bagaimana pola komunikasi masyarakat dalam berkomunikasi setelah menggunakan ponsel

C.  Tujuan Penelitian
-          Untuk mengetahui kebiasaan masyarakat dalam berkomunikasi
-          Untuk mengetahui pola komunikasi masyarakat dalam berkomunikasi setelah memakai ponsel
D.  Kegunaan Penelitian
-          Sebagai bahan masukkan bagi pengelola jaringan ponsel dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat

E.   Batasan Konsep
-          Dampak atau efek adalah perilaku seseorang yang berbeda dari yang biasa dilakukan sebelumnya sebagai akibat dari komunikasi. Dengan kata lain efek/dampak komunikasi adalah perubahan pengalaman yang telah kita simpan dalam sistem pusat syaraf kita (Hanafi, 1984 : 137-139)
-          Ponsel : sarana komunikasi yang dapat digunakan di mana pun berada sebagai sarana komunikasi yang cepat dan canggih yang menggunakan pulsa
-          Pola komunikasi : bentuk komunikasi yang berlaku di masyarakat

F.   Kerangka Teori
Dampak Media Komunikasi
Komunikasi memiliki pengertian yang beragam menurut Effendy, secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa latin communcatio yang bersumber dari kata communis yang berarti sama, dalam arti kata sama makna yaitu sama makna mengenai sesuatu hal. Jadi komunikasi akan berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan (Effendy, 1992 : 5).
Lebih lanjut Effendy mengartikan komunikasi secara paradigmatis yaitu komunikasi adalah penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitakan atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik langsung secara lisan ataupun tak langsung melalui media. Jadi secara paradigmatis, pengertian komunikasi tersimpul tujuan, yakni memberitahu atau mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion) atau perilaku (behavior) (Effendy, 1992 : 5). Sementara itu dalam bukunya Susanto menjelaskan, bahwa komunikasi adalah sebagai suatu proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung arti (Susanto, 1997 : 3).
Dengan demikian terjadinya komunikasi itu melalui adanya media, oleh karena media massa merupakan alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang melibatkan mekanisme untuk menjumpai audience yang luas.
Pesan-pesan yang disampaikan melalui berbagai media komunikasi dapat menimbulkan efek tertentu kepada masyarakat. Efek atau dampak tersebut menurut Effendy dapat diklarifikasi menjadi 3 efek kognitif, efek afektif, dan efek behavioral. Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Dampak afektif adalah dampak yang bukan sekedar supaya komunikan tahu tetapi supaya komunikan tergerak hatinya, menimbulkan perasaan tertentu. Dampak behavioral yaitu dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan (Effendy, 1992 : 7).
Berkaitan dengan efek komunikasi Hanafi mengemukakan bahwa makna efek/dampak komunikasi yang paling umum adalah seseorang melakukan sesuatu berbeda dari yang biasa dilakukan sebelumnya sebagai akibat dari komunikasi. Dengan kata lain efek komunikasi adalah perubahan pengalaman yang telah kita simpan dalam sistem pusat syaraf  kita (Hanafi, 1984 : 137-139).

G.  Operasional Variabel
Untuk mempermudah penganalisaan dapat kita lihat pada berbagai hal antara lain :
a.                Varibel X :
        *Penggunaan ponsel
          Indikator :  - Kepemilikan ponsel
           - Penggunaan ponsel
           - Frekuensi penggunaan ponsel
           - Sasaran (komunikan)
             *Bagaimana cara berkomunikasi
               Indikator :  - Langsung
                                 - SMS
                                 - Missed Call
           b. Variabel Y :
               *Perubahan pola komunikasi masyarakat
                 - Sikap sebelum dan sesudah menggunakan ponsel
                 - Pengetahuan sebelum dan sesudah menggunakan ponsel
                 - Perilaku sebelum dan sesudah menggunakan ponsel

H.  Metodologi Penelitian
Dalam penelitian sosial, metode mencakup 3 teknik penelitian yaitu   teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data dan analisis data.
     
1.   Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposif sampel yaitu pengambilan sampel terhadap pemilik ponsel sebanyak 96 responden yang berada di kota Bogor Jawa Barat.
           
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data penelitian digunakan teknik penyebaran angket dan wawancara.
        
3. Teknik Analisis Data
Dalam melakukan analisis data peneliti menggunakan teknik deskriptif analisis, wujud analisa akan berupa tabel frekuensi dan persentase

I.   Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian akan dilaksanakan di SMA Regina Pacis Bogor, dengan alasan sekolah tersebut merupakan sekolah favorit yang ada di kota Bogor, dengan asumsi bila sekolah favorit kecenderungan siswa orang berada dan memiliki ponsel.

BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan di kota Bogor dengan responden siswa sekolah Regina Pacis yang duduk di tingkat bangku sekolah lanjutan atas (SMA).
Sekolah Regina Pacis ini terletak di Jl. IR.Juanda Bogor yang termasuk di Kecamatan Bogor Tengah. Adapun jumlah siswa di SMU ini sebanyak 810 siswa yang terdiri kelas I ada 7 kelas, begitu juga kelas II dan kelas III. Masing-masing tingkatan ada 7 kelas, setiap kelas dihuni oleh ±40 orang siswa. Dari jumlah siswa yang ada kebanyakan wanita dengan jumlah 425 orang dan sisanya sebanyak 385 siswa laki-laki.
Sekolah Regina Pacis memiliki berbagai fasilitas sekolah yang lengkap dan memadai, seperti laboraturium fisika/kimia, laboraturium bahasa yang lengkap dengan perangkat komputer dan fasilitas internet, serta sarana olahraga yang lengkap.
Kelengkapan sarana sekolah yang memadai ini yang menjadikan sekolah Regina Pacis berhasil meraih berbagai prestasi baik di tingkat daerah maupun nasional, sehingga sekolah ini menyandang sekolah favorit di Jawa Barat terutama di kota Bogor. Ditunjang dengan status para siswanya termasuk strata menengah ke atas di kota Bogor.
Predikat dan prestasi yang diraih sekolah Regina Pacis inipun tidak luput dari status pendidikan para guru yang rata-rata tingkat pendidikannya D3 dan S1, dengan jumlah guru yang memadai yaitu sebanyak ±70 orang guru. Pendidikan yang rata-rata dimiliki para guru inipun berpengaruh terhadap mutu pendidikan dan prestasi yang diraih para siswa di sekolah Regina Pacis ini.
Sekolah ini dipilih sebagai populasi dalam penelitian karena berbagai predikat yang dimiliki, disamping strata siswa rata-rata menengah ke atas sehingga dengan asumsi mereka menggunakan ponsel.



















BAB III
PEMBAHASAN


I. IDENTITAS RESPONDEN

        Seperti telah dikemukakan pada bab terdahulu bahwa penelitian ini dilaksanakan guna mengetahui “dampak penggunaan ponsel pada pola komunikasi masyarakat Jawa Barat”. Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah para siswa sekolah Regina Pacis yang ada di kota Bogor, yang memiliki dan menggunakan ponsel.
      Maka dalam bab ini, akan penulis uraikan tentang sejumlah data hasil penelitian yang diperoleh dari para responden.
      Sampel penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik sampling ”Purposive Sampling” yakni menentukan sampel yang dianggap memenuhi syarat. Adapun syarat sample yang penulis tentukan adalah siswa kelas 1, 2, dan 3 yang memiliki ponsel dan menggunakannya.
      Adapun alasan penulis memilih sampel siswa SMA Regina Pacis adalah karena sekolah tersebut mempunyai banyak prestasi dan menyandang predikat sekolah favorit dan kebanyakan dari kalangan menengah ke atas, sehingga rata-rata mereka diasumsikan memiliki dan menggunakan ponsel.
      Sesuai hasil penyebaran angket penelitian sebanyak 120 eksemplar dengan pembagian tiap kelas 40 responden, ternyata berdasarkan seleksi yang dilakukan terhadap 24 angket tidak memenuhi persyaratan dan jawaban tidak valid, sehingga ditetapkan hanya 96 responden yang memenuhi untuk dapat dianalisis, sebagai data representatif seperti di bawah ini :

A.  Jenis  Kelamin

Tabel 1
Jenis Kelamin Responden

No.
Jenis Kelamin
f
%
1.
2.
Laki-laki
Perempuan
42
54
43,7
56,3

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Ternyata dari responden yang ada kebanyakan siswa wanita sebanyak 54 orang (56,3%) menggunakan ponsel ini terlihat bahwa dalam mengoperasikan ponsel diperlukan ketelatenan seperti pada pengiriman SMS sehingga bila dibanding siswa wanita ternyata siswa laki-laki yang menggunakan ponsel lebih sedikit jumlahnya 42 orang (43,7%), barangkali disini untuk siswa yang masih duduk dibangku kelas I ponsel belum merupakan kebutuhan yang mendesak bila dibanding dengan siswa kelas II dan III yang intensitas penggunaan ponsel lebih tinggi terutama siswa wanitanya, dan untuk mengetahui usia masing-masing responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
B. Usia Responden

Tabel 2
Usia Responden

No.
Usia
f
%
1.
2.
3.
16 tahun
17 tahun
18 tahun
29
37
30
30,20
38,55
31,25

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Dalam tabel 2 terlihat usia rata-rata siswa yang dijadikan responden ternyata sebanyak 29 orang (30,20%) berusia 16 tahun ini barangkali usia yang dimiliki para siswa yang duduk di kelas I dan memang idealnya usia tersebut dimiliki oleh siswa yang duduk di kelas I memang ada juga satu dua orang yang berusia di atas 16 tahun, namun bila dilihat dari perolehan data ternyata yang berusia 17 tahun terdapat 37 orang (38,55%) dan mereka ini kebanyakan siswa kelas II sedangkan yang berusia 18 tahun ada sebanyak 30 orang (31,25%) yang duduk di kelas III. Dengan demikian pada usia berkisar 16 s/d 18 tahun memang merupakan usia ideal yang dimiliki siswa pada tingkat Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SMA), jadi tak heran bila usia responden rata-rata berkisar pada usia tersebut.

II. MEDIA KOMUNIKASI

  1. Telepon Rumah

        Dari responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini ternyata semuanya memiliki telepon di rumahnya hal ini dapat terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3
Kepemilikan Telepon Rumah

No.
Uraian
f
%
1.
2.
Punya telepon
Tidak punya
96
0
100
0

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Ternyata seluruh responden yang menjadi sampel memiliki telepon rumah, hal ini membuktikan betapa pentingnya saluran komunikasi ini dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun mempunyai kepentingan yang beraneka ragam dan untuk mengetahui telah berapa lama mereka memiliki telepon rumah dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :


Tabel 4
Lamanya Memiliki Telepon Rumah

No.
Uraian
F
%
1.
2.
Kurang dari 1 tahun
Lebih dari 1 tahun
12
84
12,5
87,5

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Dari tabel di atas 84 orang (87,5%) responden memiliki telepon rumah sudah lebih dari 1 tahun lamanya, ini menunjukan intensitas mereka dalam komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang mendasar dengan mengutarakan kepemilikan telepon lebih dari 1 tahun yang lalu, sedangkan bagi 12 orang (12,5%) responden yang baru kurang dari 1 tahun memiliki telepon rumah, barangkali di daerah mereka tinggal baru terpasang jaringan telepon rumah dan bisa juga mereka tinggal di komplek perumahan yang baru dibuka, sehingga baru memperoleh atau memiliki telepon rumah kurang dari 1 tahun, dan untuk mengetahui berapa lama mereka menggunakan telepon dalam 1 hari dapat kita lihat pada tabel berikut ini :


Tabel 5
Penggunaan Telepon Dalam 1 Hari

No.
Uraian
f
%
1.
2.
Kurang dari 1 jam
Lebih dari 1 jam
88
8
91,67
8,33

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Dari data tabel di atas terlihat 88 orang (91,67%) responden menggunakan telepon rumah kurang dari 1 jam, hal ini barangkali para siswa hanya menggunakan pada saat-saat tertentu seperti pada waktu malam hari atau siang hari karena pulsa yang mereka miliki di ponselnya habis atau memang mereka sudah tahu penghematan biaya pembayaran telepon rumah karena ada aturan yang diberikan oleh para orang tuanya agar pemakaian telepon sedapat mungkin untuk hal-hal yang penting saja, beda dengan mereka yang menggunakan telepon lebih dari 1 jam dalam sehari, mungkin mereka memang tergolong orang berada dan di rumahnya dapat bebas memakai telepon kapan pun mereka mau, meskipun disini hanya 8 orang (8,33%) jumlahnya, namun dapat pula mereka tidak mau menghamburkan pulsa ponselnya dalam berkomunikasi, sehingga lebih memanfaatkan telepon di rumahnya, dan untuk mengetahui frekuensi penggunaan telepon baik yang kurang dari 1 jam dalam 1 hari atau pun lebih dari 1 jam dalam 1 hari dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6
Frekuensi Penggunaan Telepon/hari

No.
Uraian
f
%
1.
2.
3.
1 kali
2 kali
Lebih dari 2 kali
38
33
25
39,58
34,37
26,04

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Meskipun hampir 90 % menggunakan telepon rumah hanya kurang dari 1 jam dalam sehari namun penggunaannya dalam kurun dari 1 jam / kurang dari 1 jam bisa digunakan hanya 1 kali sebanyak 38 orang (39,58%) ini mungkin mereka hanya menggunakan bila ada keperluan yang mendesak, meskipun ada sebanyak 33 orang (34,37%) menggunakannya dalam 2 kali ini bisa termasuk yang menggunakanya kurang dari 1 jam dalam sehari atau bahkan bisa termasuk yang menggunakan lebih dari 1 jam dalam 1 hari, sedangkan untuk 25 orang (26,04%) menggunakan telepon bisa lebih dari 2 kali baik yang pemakaiannya kurang dari 1 jam atau lebih dari 1 jam, semua ini dapat dimungkinkan karena setiap individu memiliki kepentingan yang berlainan sesuai kebutuhannya. Untuk mengetahui berapa pembayaran telepon setiap bulannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 7

Biaya Telepon/Bulan

No.
Uraian
f
%
1.
2.
Kurang dari Rp 50.000,-
Lebih dari Rp 50.000,-
18
78
18,75
81,25

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Dari tabel di atas ternyata dari jumlah responden yang ada sebanyak 18 orang (18,75%) biaya pengeluaran/bulan untuk membayar telepon kurang lebih Rp 50.000,- barangkali responden ini termasuk yang menggunakan telepon perhari kurang dari 1 jam atau mereka hanya khusus untuk menerima saja dan sekali-kali memakainya atau memang mereka telah memplot dana untuk telepon sebesar Rp 50.000,- belum termasuk abudemennya, sedangkan sebanyak 78 orang (81,25%) responden menyatakan pengeluaran untuk telepon rata-rata di atas Rp 50.000,- tidak termasuk bayar abudemen, mereka ini digolongkan pada orang yang penggunaan teleponnya tidak dibatasi dalam pemakaiannya tergantung kebutuhan mereka.
        Dari uraian semua tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pemakaian telepon rumah pada saat ini tidak terlalu dominan dilakukan terbukti dari penggunaan telepon dan frekuensi pemakaian serta biaya yang mereka keluarkan masih terlihat pada batas kewajaran tidak ada yang mencolok biaya yang mereka keluarkan dengan keperluan yang mereka lakukan melalui telepon di rumah.

B.  Surat Menyurat

    Dari kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh para siswa disamping menggunakan telepon rumah, mereka ada kalanya menggunakan komunikasi dengan surat menyurat, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 8
Pernah Tidaknya Melakukan Surat Menyurat

No.
Uraian
F
%
1.
2.
3.
4.
Pernah
Sering
Jarang
Tidak pernah
60
18
14
4
62,50
18,88
14,58
4,04

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket

Dari jumlah siswa yang menjadi responden ternyata sebanyak 60 orang (62,50%) pernah berkirim surat baik kepada sanak saudaranya ataupun kepada temannya, disamping menulis surat juga diajarkan pada pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan sebanyak 18 orang sampai saat ini masih sering melakukan surat menyurat (18,88%), saat ini masih sering melakukan surat menyurat dengan temannya yang ada dibelahan dunia lain/luar negeri, karena kalau lewat telepon biayanya mahal, maka salah satu cara agar silaturahmi tidak terputus melalui surat. Adapun yang jarang menulis surat sebanyak 14 orang (14,58 %) mereka ini menganggap dengan surat tidak praktis dan  memakan waktu yang lama bahkan ada kalanya surat tidak sampai dan susah dilacaknya. Sebanyak 4 orang (4,04%) responden menyatakan tidak pernah berkirim surat, hal ini dimungkinkan bahwa siswa tersebut tidak tahu prosedur berkirim surat atau memang malas, dan untuk mengetahui berapa kali frekuensi mereka menulis surat dalam satu bulan dapat dilihat pada tabel bawah ini :

Tabel 9
Frekuensi Menulis Surat dalam Sebulan

No.
Uraian
f
%
1.
2.
Satu bulan sekali
Lebih dari 1 kali dalam sebulan
68
28
70,83
29,17

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket

Dari tabel di atas ternyata sebanyak 68 orang (70,83%) responden dalam sebulan hanya sekali berkirim surat itu pun ditujukan kepada teman yang tinggal di belahan dunia lain dan juga kepada kakek dan neneknya yang tinggal di kota lain yang tidak memiliki sarana komunikasi seperti telepon dirumahnya, di samping itu pula mereka berkirim surat karena punya sahabat pena yang mereka kenal lewat majalah/surat kabar. Bagi sejumlah responden 28 orang (29,17%) melakukan kgiatan menulis surat lebih dari satu kali dalam sebulan, barangkali tempat/alamat yang mereka tuju belum terjangkau sarana komunikasi karena di daerah terpencil atau memang seperti alasan di atas karena akan lebih hormat dan leluasa bila menulis surat kepada kakek dan neneknya dalam menanyakan keadaan dan yang lainnya, sehingga memerlukan intensitas berkirim surat lebih sering atau mereka termasuk siswa yang memiliki hobi berkoresponden kepada teman-temannya, sehingga senang menulis surat. Dan untuk mengetahui berapa biaya yang mereka sediakan dalam sebulan dapat dilihat dari tabel berikut ini :


Tabel 10
Biaya Yang Tersedia Tiap Bulannya

No.
Uraian
f
%
1.
2.
3.
Kurang dari Rp 50.000,-
Lebih dari Rp 50.000,-
Tidak tentu
58
16
22
60,63
16,66
22,71

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Dari tabel di atas sebanyak 58 orang (60,63%) responden dalam setiap bulannya untuk kegiatan surat menyurat menghabiskan dana kurang dari Rp 50.000,- ini barangkali termasuk pada kategori mereka yang berkirim surat sebulan sekali dengan tujuan yang jauh (luar Indonesia) Sehingga biayanya relatif lumayan karena melalui surat tercatat, sedangkan untuk yang lebih dari Rp 50.000,- mereka melalui telegram jarak jauh sehingga biaya relatif tinggi ini ada sebanyak 16 orang (16,66%) responden, dan bagi mereka yang mengeluarkan biaya tak tentu ada sebanyak 22 orang (22,71%) responden, barangkali mereka tidak pernah menghitung berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk surat menyurat karena dalam berkirim surat pun mereka juga tidak rutin, sehingga tidak tahu persis berapa biaya yang dikeluarkan dalam satu bulan.
        Dari hal surat menyurat ternyata disini para siswa masih banyak yang melakukan, meskipun dalam jumlah yang tidak besar, bila dilihat dari responden yang sama sekali tidak pernah berkirim surat, di samping itu frekuensi yang dilakukan pun cukup lumayan dengan berbagai kepentingan yang bervariasi namun terlihat cukup dominan dalam berkirim surat untuk mengabarkan hal yang penting-penting saja, sedangkan biaya yang mereka keluarkan untuk berkirim surat tidak begitu besar mengingat frekuensi berkirim suratnya juga tidak tinggi.
C.  Telepon Genggam/Ponsel

        Untuk mengetahui kegiatan komunikasi para siswa melalui ponselnya akan kami uraikan pada paparan berikut ini, disini dari seluruh responden yang dijadikan sampel dalam penelitian sengaja dipilih para siswa yang memiliki ponsel dan menggunakannya untuk berkomunikasi, jadi seluruh responden yang jumlahnya 96 siswa menjadi responden dalam penelitian ini yang terdiri dari siswa kelas I, II, dan III.
        Dan untuk mengetahui frekuensi penggunaan ponsel dalam 1 hari bagi para siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 11
Frekuensi Penggunaan Ponsel Dalam 1 Hari

No.
Uraian
F
%
1.
2.
3.
Sering sekali
Jarang
Bila perlu
66
16
14
68,75
16,66
14,59

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
       
Dari tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 66 orang (68,75%) responden frekuensi penggunaan ponsel dalam sehari sering sekali, disini barangkali para siswa ini termasuk orang yang sering berkomunikasi dengan sesama teman dalam menjalani dan mempererat tali silaturahmi atau bahkan bisa jadi mereka termasuk orang yang keranjingan terhadap ponsel, sehingga ponsel miliknya merupakan barang yang sangat berharga dan penolong dalam kehidupannya atau bisa juga karena mereka memiliki ponsel baru dan tersedia pulsa yang banyak sehingga mereka lebih sering frekuensi berkomunikasi dengan temannya meskipun di sekolah mereka sudah bertemu belajar seharian. Sedangkan sebanyak 16 orang (16,66%) responden penggunaan ponselnya jarang, barangkali disini mereka termasuk juga terbatas pulsa yang mereka sediakan sehingga mereka jarang menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dengan sesamanya, atau karena mereka sudah seharian bertemu dan bercakap-cakap seharian di sekolah membicarakan berbagai hal, sehingga ponsel mereka jarang pemakaiannya.
        Sebanyak 14 orang (14,59%) responden menggunakan ponsel hanya bila perlu saja, disini mereka termasuk pada siswa yang kurang senang berkomunikasi dengan ponsel bila tidak ada hal yang penting untuk dikomunikasikan. Dari frekuensi penggunaan ponsel ternyata cukup tinggi yang menggunakan persentasenya yang memakai kategori sering sekali bila dibandingkan dengan yang jarang dan bila perlu memakainya perbedaannya sangat signifikan.
       
Dan untuk mengetahui berapa lama waktu yang mereka pakai dalam berkomunikasi dapat kita lihat dalam tabel berikut ini :


Tabel 12
Lamanya Menggunakan Ponsel 1 hari

No.
Uraian
F
%
1.
2.
Kurang dari 15 menit
Lebih dari 15 menit
82
14
85,54
14,46

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Ternyata dari hasil angket yang disebarkan sebanyak 82 orang (85,54%) responden menggunakan ponselnya kurang dari 15 menit, barangkali mereka ini termasuk orang yang sudah dapat menghemat isi pulsa sesuai dengan jatah yang diperoleh dari orang tuanya, sehingga penggunaan ponselnya dalam 1 hari hanya digunakan untuk berkomunikasi selama kurang lebih 15 menit dan mereka juga dapat dikategorikan pada siswa yang sering sekali menggunakan ponsel, meskipun waktu penggunaannya hanya sebentar tiap harinya, sedangkan sebanyak 14 orang (14,46%) responden mengaku menggunakan ponsel per harinya lebih dari 15 menit, hal ini dimungkinkan bahwa mereka ini bisa beraneka ragam menggunakannya mulai dari untuk menelpon langsung, SMS maupun Missed Call. Meskipun jumlahnya hanya sedikit namun frekuensi mereka dalam 1 hari cukup tinggi waktu yang dipakainya.
       
Dan guna mengetahui benar penggunaan ponsel mereka ini untuk apa saja dalam 1hari dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 13
Untuk Keperluan Apa Saja 1 Harinya

No.
Uraian
f
%
1.
2.
3.
Telepon langsung
Missed Call
SMS
22
20
54
22,92
18,12
58,96

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Dari tabel di atas ternyata sebanyak 54 orang (58,96%) responden menggunakan ponsel dalam 1 harinya untuk mengirim SMS, hal ini sesuai dengan dunia mereka diaman pada anak-anak remaja ini sangat gemar berkirim SMS diantara sesamanya mengingat dengan berkirim SMS biaya lebih murah dan dapat segera dibalas, meskipun disini diperlukan ketelatenan dalam menulis ini SMS yang akan dikirim dan ternyata dengan adanya fasilitas SMS yang ada diponsel sangat mempermudah mereka berkomunikasi dan bertukar informasi tanpa mengeluarkan biaya yang besar dan dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun mereka mau, sehingga dengan demikian fasilitas SMS yang dimiliki ponsel mempermudah dan mempercepat komunikasi, di samping efektif dan efisien juga sebanyak 22 orang ( 22,92%) responden menggunakan ponselnya untuk menelpon langsung meskipun disini mereka pemanfaatan waktu berlainan ada yang kurang dari 15 menit dan lebih dari 15 menit dalam 1 hari. Bila menelpon langsung atau barangkali mereka lebih senang menelepon langsung karena pulsa mereka banyak dan ingin dapat mendengar langsung suara yang diajak berkomunikasi, dan 20 orang (18,12%) responden digunakan untuk Missed Call agar mereka dihubungi sehingga disini bisa lebih hemat dalam penggunaan pulsa yang dimiliki.
        Untuk mengetahui berapa pulsa yang dipakai dalam satu bulan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 14
Pulsa Yang Dipakai dalam 1 Bulan

No.
Uraian
f
%
1.
2.
3.
Rp 25.000,-
Rp 50.000,-
Rp 100.000,- lebih
50
28
18
52,08
29,17
18,75

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Dari tabel di atas ternyata 50 orang (52,08%) responden dalam sebulan mereka menghabiskan pulsa sebanyak Rp 25.000,- dari hasil wawancara, kebanyakan mereka menggunakan pulsa Esia dan Flexi dimana dari kedua pulsa ini sangat irit dalam pengeluaran baik untuk SMS atau menelepon langsung, barangkali mereka memilih memakai pulsa ini karena relatif murah dan jatah dari orang tua pun hanya berkisar Rp 25.000,- per bulannya,sehingga penggunaan pulsa ini merupakan salah satu pilihan yang tepat, meskipun ada juga beberapa responden memakai pulsa diluar Esia dan Flexi namun mereka menggunakan hanya untuk SMS dan Missed Call dan sekali-sekali menelpon, sedangkan sebanyak 28 orang (29,17%) responden dalam 1 bulan menghabiskan pulsa Rp 50.000,- barangkali mereka ini mendapat jatah untuk membeli pulsa dari orang tua sebanyak itu dan mereka menggunakan pulsa XL atau Simpati yang relatif masih mahal bila dibanding dengan kedua pulsa yang di atas, di samping itu mereka termasuk mereka yang senang menelepon langsung untuk berkomunikasi, sehingga dalam hal ini mereka juga banyak berkomunikasi dengan mengirim SMS kepada sesamanya bahkan dengan keluarga jauh sekali pun.

Sebanyak 18 orang (18,75%) responden dalam 1 bulan menghabiskan pulsa kurang lebih Rp 100.000,- bagi ukuran siswa sekolah pengeluaran ini terhitung cukup besar mengingat mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah, namun mengingat siswa sekolah disini termasuk anak-anak dari kalangan menengah ke atas sehingga bagi sebagian siswa pulsa Rp 100.000,- bukan hal yang mewah atau besar, apa lagi kalau mereka memang mendapat jatah dari orang tuanya sebesar itu dan komunikasi yang dilakukan mereka intensitasnya cukup tinggi, namun bila dilihat dari segi kebutuhan ukuran anak sekolah mereka ini tergolong pada yang suka melakukan telepon langsung melalui ponselnya dengan waktu lebih dari 15 menit dalam 1 hari dan komunikasi yang mereka lakukan pun tidak melihat hal penting atau tidak, yang penting mereka berkomunikasi tanpa melihat biaya pulsa yang dikeluarkan. Dan untuk mengetahui penilaian para siswa terhadap kehadiran ponsel dalam kehidupan dapat disimak pada tabel berikut ini :
Tabel 15
Penilaian Terhadap Kehadiran Ponsel

No.
Uraian
f
%
1.
2.
3.
Sangat menguntungkan
Kurang menguntungkan
Tidak menguntungkan
84
9
3
87,56
9,33
3,11

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Dari hasil angket yang kami peroleh ternyata 84 orang (87,56%) responden menyatakan kehadiran ponsel sangat menguntungkan, karena adanya ponsel membantu dan mempermudah dalam komunikasi, dan lagi dengan menggunakan ponsel berbagai kepentingan dapat segera  dikomunikasikan dengan cepat tidak memandang waktu dan tempat, sebanyak 9 orang (9,33%) responden merasa kurang menggunakan ponsel, dengan alasan ada kalanya ponsel mengganggu privasi pribadi, atau barangkali mereka memakai ponsel hanya asal-asalan agar tak ketinggalan jaman, sehingga mereka kurang merasakan keuntungan yang diperoleh dari ponsel yang dimilikinya dan sebanyak 3 orang (3,11%) responden menyebutkan bahwa menggunakan ponsel tidak menguntungkan dalam arti meskipun ada ponsel mereka belum memahami betul fungsi dari ponsel tersebut bahkan mereka ini berpendapat punya ponsel hanya untuk berhubungan dengan orang tua saja guna mengecek keberadaan mereka sedangkan dengan sesama teman mereka jarang berkomunikasi karena setiap hari sudah bertemu di sekolah.
        Sedangkan untuk mengetahui adakah manfaat ponsel bagi para siswa dapat disimak pada tabel di bawah ini :

Tabel 16
Manfaat Ponsel Bagi Siswa

No.
Uraian
f
%
1.
2.
Bermanfaat
Tidak bermanfaat
93
3
96,89
3,11

Jumlah
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Dari data yang dihimpun melalui angket dan terakumulasi dalam tabel ternyata sebanyak 93 orang (96,89%) responden merasakan manfaat dengan menggunakan ponsel karena mempermudah komunikasi dan ponsel merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif dibanding yang lainnya, karena dengan ponsel dapat berkomunikasi kapan saja dan dimana saja berada, di samping itu dapat segera dapat mengetahui informasi secara cepat, sedangkan bagi 3 orang (3,11%) responden yang menyatakan kurang bermanfaat barangkali mereka ini termasuk siswa yang baru menggunakan ponsel sehingga belum merasakan secara persis manfaat penggunaan ponsel namun dari jumlah responden yang menyatakan penggunaan ponsel sangat bermanfaat dibanding dengan yang hanya 3 responden mengatakan tidak bermanfaat disini perbedaan yang cukup signifikan tidak berpengaruh terhadap siswa lainnya (93 orang).
         Untuk mengetahui para siswa dalam berkomunikasi sebelum/sesudah menggunakan ponsel dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel !7

Cara Berkomunikasi Sebelum/Sesudah Pakai Ponsel

NO
URAIAN
SEBELUM
SESUDAH


F
%
F
%
1
Mengunjungi langsung/kadang-kadang
24
25
12
12,50
2
Melalui surat-surat/SMS
18
18,75
56
58,48
3
Menelepon dari rumah/ponsel
54
56,25
28
29,02

Jumlah
96
100
96
100
n=96

Sumber : Hasil angket

        Ternyata cara berkomunikasi para siswa sebelum menggunakan ponsel frekuensi yang menonjol adalah mengunakan telepon di rumah sebanyak 54 orang (56,25%) dan mengunjungi langsung (18,75%), anjang sono ada sebanyak 24 orang (25%) dan 18 orang berkomunikasi melalui surat, di sini nampak cara berkomunikasi masih mengunakan cara-cara lama, hal ini sangat dimungkinkan mengingat rasa kekeluargaan mereka masih dijaga agar tidak terputus tali silahturahmi, meskipun komunikasi mereka melalui surat yang memakan waktu dan proses yang lama hal ini tidak menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Namun setelah adanya kemajuan teknologi seperti ponsel ternyata acara silahturahmi mengunjungi lansung dilakukan kadang-kadang dan frekuensinya pun menurun, yang tadinya 25% menjadi 12,5% seperti terlihat pada tabel, di sini terlihat kemajuan teknologi komunikasi dapat merubah tatanan masyarakat yang ada dan dapat diperkirakan melunturkan budaya. Di samping itu kehadiran ponsel dalam tabel ini juga dapat merubah kebiasaan surat menyurat karena dapat digantikan oleh pengiriman melalui SMS yang tadinya jumlah responden melakukan surat menyurat 18,75% dengan adanya ponsel yang melalui fasilitas SMSnya berubah menjadi 58,48%, padahal di sini orang dalam menulis surat dapat secara panjang lebar sepuasnya tapi dengan SMS hanya yang penting, singkat dan padat berita/informasi yang dikirim.

Hal ini karena biaya SMS murah dan prosesnya cepat dan dapat dilakukan di mana saja. Di samping itu SMS juga menggantikan cara mereka berkomunikasi melalui telepon rumah yang tadinya masih dilakukan oleh sebanyak 56,25% di sini terlihat adanya perubahan yang cukup drastis di mana pengggunaan telepon rumah ini berubah jadi menelepon lewat ponsel 29,02% dan mengirim SMS 58,48%, barangkali di sini mereka melakukan penghematan biaya telepon rumah yang terhitung cukup mahal bila dibanding dengan melalui pulsa ponsel dan biaya SMS, karena biaya SMS relatif sangat murah, mudah dan cepat.
        Dengan demikian terlihat sesudah memakai ponsel seluruh responden mengalami perubahan yang signifikan baik dari segi biaya maupun efisiensinya. Di sini dapat dibuktikan bahwa teknologi komunikasi saeperti ponsel merubah pola komunikasi masyarakat yang ada.
        Namun setelah hadirnya ponsel dengan berbagai merk dan fasilitas yang ada, mereka dalam berkomunikasi sudah berbeda dan untuk mengetahui pengetahuan mereka dalam berkomunikasi setelah menggunakan ponsel dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 25
Pengetahuan Berkomunikasi Setelah Pakai Ponsel

No.
Uraian
f
%
1.

2.

3.


Meningkat pengetahuan tentang cara memakai ponsel
Meningkat pengetahuan tentang berbagai merk ponsel
Meningkat pengetahuan tentang berbagai fasilitas yang ada di ponsel
96

80

68
100

86,66

70,86

Jumlah
-
-
n=lebih dari satu
Sumber : Hasil angket (jawaban lebih dari satu)
        Dari tabel di atas terlihat berbagai peningkatan pengetahuan komunikasi melalui ponsel sebanyak 96 orang (100%) responden tahu terhadap penggunaan ponsel, hal ini dapat dipahami karena ponsel merupakan perangkat komunikasi yang simple dan mudah dioperasikan sekalipun mereka anak-anak. Keadaan ini yang memicu adanya peningkatan dalam hal berkomunikasi dengan tersedianya sarana yang praktis dan terjangkau harganya maka akan memperlancar berkomunikasi, di samping itu sebanyak 80 orang (86,66%) responden meningkat pengetahuannya tentang berbagai merk ponsel meskipun sebatas yang dipakai dikalangan teman-temannya seperti merk Nokia, Motorola, Sony Ericson, Samsung dan Siemens karena merk-merk tersebut yang rata-rata digunakan anak-anak di sekolahnya, meskipun ada beberapa siswa di kelas satu tidak tahu merk ponsel lainnya kecuali yang mereka gunakan/pakai atau karena usia yang masih muda dan baru menggunakan ponsel saat masuk bangku sekolah SMU sehingga pengetahuan mereka tentang merk ponsel terbatas, sedangkan sebanyak 68 orang (70,86%) responden tahu benar tentang berbagai fasilitas yang ada pada ponsel baik itu dari SMS, Missed Call, Ringtone, MMS, dsb, walaupun ada juga yang hanya tahu fasilitas ponsel seperti bisa SMS dan mengubah nada sambung dan missed call, padahal fasilitas ponsel makin canggih merknya (serinya) makin banyak fasilitas yang dimilikinya.
        Dan untuk mengetahui bagaimana perilaku mereka dalam berkomunikasi sebelum dan sesudah menggunakan ponsel dapat dilihat pada hasil wawancara yang terakumulasi dalam tabel berikut :

 

Tabel 18

Perubahan Prilaku Dalam Komunikasi Sebelum/Setelah Pakai Ponsel

NO
URAIAN
SEBELUM
SESUDAH


F
%
F
%
1
Biasa-biasa saja/ketergantungan akan ponsel
66
68,78
56
58,33
2
Berkomunikasi bila penting/boros
30
31,22
40
41,67

Jumlah
96
100
96
100
n=96
Sumber : Hasil angket
        Terlihat pada tabel diatas prilaku responden sebelum menggunakan ponsel mengatakan biasa-biasa saja (68,78%) dalam berkomunikasi dan mengatakan melakukan komunikasi bila perlu saja (31,22%) orang, di sini dapat dikatakan prilaku mereka sangat wajar bila melihat fasilitas berkomunikasi masih sangat terbatas lewat telepon rumah, surat menyurat, dan anjang sono, mengingat biaya telepon rumah cukup tinggi dan menulis surat memerlukan proses yang panjang dan lama, sehingga mereka berkomunikasi bila penting (31,22%) orang mengatakan pendapatnya keadaan ini sesuai dengan alam dan budaya yang berlansung di kehidupan sehari-hari di sekitar kita, namun setelah kehadiran teknologi di bidang komunikasi yang cukup pesat dan dasyat, di mana salah satu alat komunikasi seperti ponsel digunakan, ternyata perubahan perilaku masyarakat sangat mencolok yang tadinya biasa-biasa saja dan bila perlu mereka melakukan komunikasi sekarang berubah menjadi keranjinan terhadap ponsel yang mereka miliki dalam berkomunikasi, barangkali di sini karena ponsel yang efektif dan mudah pengoperasiannya serta dapat dilakukan di mana dan kapan saja menjadikan pengguna ponsel ini menjadi ketergantunan sekali pada ponselnya (58,33%) merasa ada yang kurang bila ponselnya tidak ada didekatnya dalam bergaul.

Mengingat kemudahan akan alat komunikasi ii sebanyak 41,67% responden yang tadinya berhemat dalam berkomunikasi bila penting menjadi boros dalam hal baik anggaran maupun komunikasi yang dilakukan tanpa melihat penting tidaknya. Keadaan ini dimungkinkan karena adanya factor kemudahan dan terjangkau daya beli terhadap berbagai merk ponsel disamping murahnya biaya dalam sekali melakukan komunikasi lewat SMS misalnya.
        Di sini terlihat adanya perubahan prilaku terhadap kehadiran teknologi komunikasi seperti ponsel membuat orang lebih individualistis dan mengurangi intensitas hubungan manusia (anjang sono) yang dapat membuat manusia merasa terasing, karena dengan kemajuan teknologi komunikasi, orang sekarang  tidak perlu lagi bertemu secara langsung untuk menyampaikan pesan-pesannya atau melalui surat yang biasa dilakukan, tapi cukup menggunakan kecanggihan fasilitas teknologi komunikasi yang ada seperti ponsel yang mudah dilakukan dimanapun berada.



BAB IV
PENUTUP


A.  Kesimpulan

Dari data penelitian ternyata penggunaan ponsel menimbulkan dampak perubahan pola komunikasi pada masyarakat, hal ini dapat disimak pada hasil pembahasan bab-bab terdahulu yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Penilaian responden terhadap kehadiran ponsel sangat menguntungkan karena mempermudah berkomunikasi baik melalui telepon langsung ataupun dengan mengirimkan SMS (87,56%) responden yang menyatakan hal tersebut, dan yang menyatakan sangat bermanfaat menggunakan ponsel (96,89%), berdasarkan data tersebut penggunaan ponsel sangat bermanfaat dan menguntungkan karena ponsel merupakan salah satu sarana komunikasi yang paling simple dan efektif sehingga menguntungkan bagi pemakainya dalam memudahkan berkomunikasi.Adapun manfaat yang paling terasa adalah penggunaan ponsel mempermudah komunikasi (32,25%) , mengurangi biaya pemakaian telepon rumah (24,73%) dan mengganti proses surat menyurat dengan SMS yang dapat segera tahu respon yang kita kirim (29,03%) dan mempercepat perolehan informasi (13,98%).

  1. Menyangkut tentang cara berkomunikasi sebelum dan sesudah memakai ponsel, di sini ternyata sebelum memakai ponsel acara mengunjungi langsung (anjang sono) ada (25%), setelah memakai ponsel berkurang menjadi hanya (12%), yang sebelumnya menulis surat (18,75%) setelah memakai ponsel berubah menjadi mengirim SMS (58,48%) dan sebelum memakai ponsel masih memanfaatkan telepon rumah (56,25%) sekarang setelah menggunakan ponsel memanfaatkan ponselnya sebanyak (29,02%). Dari data ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ponsel banyak merubah kebiasaan-kebiasaan yang ada seperti anjang sono menjadi berkurang, sedangkan dalam surat menyurat yang tadinya bisa bercerita panjang diganti melalui SMS yang singkat dan padat.Peningkatan dalam berkomunikasi sebelum memakai ponsel hanya tahu sebatas lewat telepon rumah (45,87%) dan surat menyurat (33,40%), sedangkan setelah memakai ponsel meningkat pengetahuan berkomunikasinya baik dari cara penggunaan ponsel (100%) dan mengenal berbagai merk ponsel (83,33%) serta mengenal berbagai fasilitas yang ada di ponsel (25%). Hal ini membuktikan pemakaian ponsel meningkatkan responden dalam hal teknologi komunikasi.

  1. Menyangkut perilaku dalam berkomunikasi ternyata responden sebelum memakai ponsel biasa-biasa saja (41,66%) dan berkomunikasi bila penting (31,22%) serta melalui surat menyurat dalam berkomunikasi (27,12%), sedangkan setelah memakai ponsel perilaku mereka dalam berkomunikasi berubah menjadi ketergantungan terhadap ponsel (58,33%) dan yang tadinya hemat menjadi boros (28,10%). Dari perbandingan sebelum dan setelah memakai ponsel ternyata perilaku responden mengalami perubahan yang mencolok dalam berkomunikasi yang semula berkomunikasi bila penting menjadi meningkat frekuensi berkomunikasinya tanpa melihat penting tidaknya sehingga yang biasa hemat menjadi boros, karena kebutuhan pulsa meningkat.


DAFTAR PUSTAKA


-          Bertrand, A. Sosiologi (terjemahan : Senapiah.S.faisal). Surabaya. PT Bina Ilmu.
-          Gerungan dan Rakmat. 2000. Komunikasi Antar Budaya. Bandung. Rosda Karya.
-          Rogers, E.M. 1986. Communication Technology. The Three Press. New York.
-          Schramm, W. 1976. With Respect to Inter Cultural Communication. Tokyo. The Simul Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar